Thursday, August 31, 2006


sekali lagi anak-anak,
"imaji liar" nya menjadikan dirinya
pesumo kurus, terkurus di dunia...
arkanilma eros sawungrana, pesumo handuk.

Wednesday, August 30, 2006

my first son
inilah anak-anak
"dunia tak terduga" menjadi milik mereka
siapa sangka, celana pendek sang adik
mampu menjadikan dirinya ....
spider man

TraGEDI DuniA PendiDIkaN

Bukannya "kebelet" mau jadi kepsek, tapi respon atas "isu" suap di seputar pengangkatan kepala sekolah di Klaten. Namanya juga isu, jadi pasti susah dicari ujung pangkalnya ............


MENJADI KEPALA SEKOLAH BARU
Oleh: Zulkarnaen Syri L.

Akhirnya kesempatan itu datang. Setelah berpuluh tahun menunggu saat itu datang juga. Menjadi kepala sekolah! Tim seleksi sekolah merekomendasikan aku dan salah satu teman untuk mengikuti seleksi kepala sekolah SMA yang lowong karena berbagai hal. Ada yang pensiun, telah menjabat dua periode, dan lowong karena kepala sekolah lama meninggal dunia. Pernah aku sangat berharap ada kepala sekolah yang mengundurkan diri karena merasa gagal dalam tugas, namun harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Berkas-berkas persyaratan seleksi aku siapkan semuanya. Piagam-piagam penghargaan dari berbagai kejuaraan menulis, piagam penataran, surat keterangan dari banyak lembaga tentang keaktifanku dalam kegiatan sosial budaya di masyarakat, dan surat rekomendasi dari LSM yang bergerak di bidang pendidikan tersusun rapi dalam map yang, astaga…!, harus sewarna dengan warna khas parpol kendaraan Bupati baru menuju kursi kekuasaannya!
******
Teman-teman satu sekolah mendoakan kami berdua setelah acara briefing oleh Kepala Sekolah selesai. Bu Dana, yang mengikuti seleksi kepala sekolah tahun lalu tetapi gagal, menghampiriku ketika pembacaan doa usai. Sambil menyalami tanganku, beliau bertanya:
“Sudah siap lahir batin Pak?”
“Yes! Semua syarat yang berhubungan dengan administrasi ada dalam map ini. Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan ada dalam otak saya. Bahkan UU Nomor 20 Tahun 2003 hampir hapal aku Bu!”, jawabku mantap.
“Oalah Pak…, nggak cukup syarat itu. Bapak harus menyediakan juga dana segar agar terpilih menjadi salah satu kepala sekolah. Tanpa duit di tangan…, Bapak hanya buang-buang waktu dan tenaga Pak!”
“Yang benar Bu…? Ini Bupati baru Bu. Saya ingat waktu kampanye, beliau berjanji akan menumpas korupsi dan praktik suap menyuap. Jangan-jangan itu hanya alasan Bu Dana karena kemarin nggak lolos seleksi?”, candaku pada Bu Dana.
Mendadak wajah Bu Dana berubah serius. Aku khawatir Bu Dana tersinggung dengan gurauanku. Dengan suara setengah berbisik, Bu Dana berkata:
“Tahun kemarin Pak, mereka yang lolos menjadi kepala sekolah harus setor ke Bupati antara 40 juta sampai 60 juta rupiah tergantung posisi dan besar kecilnya sekolah. Jadi kalau Pak…”.
“Sebentar Bu…,” aku potong perkataan Bu Dana, “apa Bupati yang kaya tega minta uang dari para calon kepala seperti saya ini Bu? Terus apa ada bukti kalau mereka harus setor puluhan juta itu Bu?”
“Pak Kun ini kura-kura dalam perahu, semua orang juga tahu untuk jadi Bupati beliau harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Mengenai uang setoran memang sulit Pak dibuktikan. Beliau itu kan orang pintar, pasti tidak mau memberi kuitansi setoran tidak sah tersebut. Bunuh diri namanya kalau sampai mau memberi kuitansi. Saya tahu dari pengakuan salah satu calon yang sekarang telah menjabat Kepala Sekolah di SMA ndesa lereng gunung sana. Katanya sih, setoran dia paling kecil di antara calon lainnya, sehingga dia dibuang di sana”.
“Saya kok tidak yakin Bu dengan semua itu. Saya yakin itu issue yang dihembuskan oleh …, maaf ya Bu bukan berarti saya nuduh Bu Dana, para kandidat yang tidak lolos seleksi. Untuk menutup kelemahannya gitu lho Bu!”
*****
Soal-soal seleksi kulahap dengan cepat. Maklum hanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang telah populer selama ini. Begitu pula soal-soal teknis manajemen pengelolaan sekolah. Lancar abis …, kata anak-anak muda sekarang. Tidak ada satu pun soal terlewatkan tanpa jawaban. Makalah yang aku buat juga mendapat pujian dari para penguji ketika presentasi berlangsung, sehingga tidak mengherankan kalau nilaiku tertinggi di antara 22 kandidat kepala sekolah SMA tahun ini. Bayangan kursi kepala sekolah favorit berkelebat di depanku.
Empat hari kemudian, wawancara sebagai seleksi terakhir dilaksanakan. Rumor yang beredar, tahapan inilah yang rawan suap-menyuap selain pertemuan-pertemuan informal antara kandidat dengan decision maker, karena tidak terpantau oleh kandidat lainnya. Masa bodoh dengan segala macam rumor. Aku yakin profesionalitas ada di atas semua itu. Dalam wawancara, sejumlah gagasan baru dalam penyelenggaraan pendidikan coba aku tawarkan. Demokratisasi dalam pendidikan menjadi prioritas programku. Siswa mempunyai hak untuk menentukan kebijakan sekolah melalui pembentukan Dewan Siswa. Dewan Siswa, dalam paparanku di depan penguji, berhak mengkritisi kebijakan sekolah yang dianggap merugikan siswa, seperti pembelian seragam sekolah, penyeragaman buku pegangan, dan kenaikan SPP atau apapun namanya. Bukan kebijakan populer memang, tapi aku yakin akan sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas bangsa ini.
“Itulah sumbangan saya pada dunia pendidikan di kota ini”, jawabku mantap mengomentari pertanyaan terakhir dari penguji.
*****

Rencana pengumuman seleksi ternyata mundur untuk yang ke dua kalinya hari ini. Lagi-lagi rumor yang beredar adalah memberi kesempatan kepada para kandidat untuk menaikkan besarnya uang setoran kepada ‘Juragan’. Aku tetap kukuh dengan sikap awalku. Profesionalitas tetap aku junjung tinggi-tinggi, dan terbukti tiga hari kemudian. Aku merupakan salah satu dari tujuh orang yang akan mengisi lima lowongan kepala sekolah di kota ini.
Bu Dana menjadi orang pertama yang memberiku ucapan selamat. Sambil menggenggam tanganku dengan erat, Bu Dana berkata:
“Anda beruntung Pak, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, Pak Kun lolos seleksi tahap-tahap akhir”.
“Ini sudah final Bu. Tinggal …”.
“Belum Pak,” potong Bu Dana cepat, “tahap ini rawan sekali dengan suap-menyuap. Kalau Anda tidak mau memberikan uang setoran, jangan harap dilantik! Bapak cuma dijadikan bemper oleh Bupati. Kalau ada kandidat lain atau wartawan yang mencurigai ada suap dalam proses ini, saya yakin Bapak akan mengatakan bahwa tidak ada, karena Bapak memang tidak setor. Periode kemarin juga begitu, yang nggak mau setor ya cadangan melulu Pak! Mau setor berapa Pak?”
“Sampai kapan pun saya tidak akan mau melakukan suap seperti itu. Tunggu saja tanggal mainnya. Bu Dana akan jadi orang pertama yang saya kabari saat pelantikan nanti. Percaya deh Bu!”, kataku mantap.
*****
Motor butut kesayangan sudah kucuci bersih kemarin. Kubeli dari orang tua murid dari tabungan hasil tulisan di koran-koran lokal ditambah hadiah dari lomba menulis. Ini hari pertamaku masuk ke sekolah baru, sebagai Kepala Sekolah! Berbagai skenario sudah kurancang sampai detail, termasuk sambutanku pada upacara perkenalan nanti di lapangan sekolah.
Dengan tenang aku mengatur letak mikropon yang terlalu tinggi bagi tubuhku yang kecil setelah protokol mempersilakan Pembina Upacara menyampaikan amanat. Kumulai dengan perkenalan singkat untuk selanjutnya memperkenalkan program Kepala Sekolah baru, Demokratisasi Pendidikan.
“Bapak Ibu Guru dan Karyawan yang saya hormati, anak-anak yang mudah-mudahan bisa saya banggakan, tanpa demokratisasi pendidikan, pendidikan di negeri ini hanya akan menghasilkan generasi penurut yang tidak punya inisiatif. Generasi bebek. Yang depan belok kanan, bebek di belakang pun belok kanan. Kita ingin generasi bangsa ini menjadi generasi yang berani berbeda pendapat, anti suap, bertanggung-jawab atas perbuatannya. Pendidikan dilaksanakan untuk memerdekakan pikiran. Pendidikan bukan dimaksudkan untuk membuka peluang baru bagi penindasan manusia atas manusia, penindasan siswa oleh guru, ataupun penindasan kepala sekolah kepada guru dan para siswa!” Para siswa bertepuk tangan sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. Aku semakin bergairah melanjutkan pidatoku. “Kalian boleh mengkritisi kebijakan sekolah yang kalian anggap merugikan! Lengserkan saya kalau menyalahgunakan keuangan sekolah. Uang itu penting, tapi bagi saya dan mudah-mudahan kita semua, yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita memperoleh uang tersebut! Bentuklah Dewan Siswa! Saya berjanji akan melibatkan dewan ini dalam mengambil kebijakan-kebijakan sekolah. Dewan Murid akan mempunyai kedudukan yang sama dengan Dewan Guru. Setuju…? Buku pegangan pelajaran tidak harus sama. Setuju…? Seragam tidak harus beli di sekolah. Setuju…? Piknik atau apapun namanya tidak wajib ikut. Setuju…? Memb…
Belum selesai aku memuntahkan semua masalah pendidikan yang mengganggu pikiranku, seseorang mencoba mencegahku untuk melanjutkan pidatoku:
“Pak, eling Pak. Bangun! Siang hari gini kok mengigau ‘setuja-setuju’. Istighfar Pak, tidak jadi kepala sekolah nggak apa-apa. Saya kan tidak pernah nuntut Bapak harus jadi kepala sekolah”, kata istri menyadarkan aku dari mimpi di siang hari.

Zulkarnaen Syri Lokesywara, Guru SMAN 1 JatinomKetua Forum Komunikasi Guru Madani (FKGM) Kab. Klaten

Saturday, August 26, 2006


Betapa besar pengaruh ponsel,
sampai-sampai Sang Warok asyik ber-SMS
saat teman-temannya berkeringat

OPTIMALISASI PERAN INDUSTRI SELULAR
DALAM PROSES PEMBELAJARAN SISWA SMA

Oleh: Zulkarnaen Syri L.


Perkembangan teknologi informasi menyebabkan gaya hidup manusia sangat berubah. Telepon selular (ponsel) bukan lagi menjadi sebuah simbol status seperti dulu. Survei Siemens Mobile Lifestyle III memberikan hasil yang mencengangkan. Menurut survei tersebut, 60% remaja usia 15-19 tahun lebih suka membaca SMS (short messaging service) daripada membaca buku (Kompas, 4 April 2003). Tulisan ini mencoba mencari “benang merah” perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan di SMA. Pelaku pendidikan, diakui atau tidak, seringkali terpaku pada pola-pola lama yang telah mapan, sehingga proses pembelajaran cenderung mandek (stagnant) dan membosankan, serta kurang inovatif.
Kalahnya pamor buku dibandingkan dengan SMS di kalangan remaja tentu saja harus disikapi secara bijaksana. Tidak perlu risau dengan kondisi seperti itu. Dibutuhkan kelihaian penyelenggara pendidikan untuk justru memanfaatkan realitas tersebut sebagai cara baru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Guru, sebagai salah satu komponen pembelajaran, diharapkan mampu menjadi motivator dan dinamisator pada sebuah kelas. Guru tidak harus menjadi orang paling tahu dan paling benar dalam sebuah kelas seperti yang selama ini dikenal. Bobbi DePorter dkk. (2002: 7) dalam buku Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas mengibaratkan kelas sebagai sebuah orkestra. Dalam orkestra tersebut, guru diharapkan menjadi konduktor yang mampu membawa peserta didik naik-turun mengikuti irama yang dimainkannya.
Menurut Quantum Teaching, keberhasilan proses pembelajaran siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru memasuki dunia siswa dan mengantarkan para siswa memasuki dunia baru yang ingin diajarkan guru, seperti konsep, proses, dan fenomena-fenomena baru.
Ponsel dalam Kehidupan Remaja
Sejak sekitar 5 tahun lalu, beberapa SMA di daerah harus merevisi Tata-tertib Siswa yang sudah berlaku bertahun-tahun dengan menambahkan item larangan mengaktifkan ponsel di dalam kelas. Penyebabnya, dalam tas sekolah mereka tersimpan ponsel, terutama GSM, yang dibawa dengan tujuan beragam, baik yang bersifat hura-hura (just fun) sampai yang serius. Jika di daerah saja sudah diberlakukan seperti itu, asumsinya di kota-kota besar trend penggunaan ponsel jauh lebih awal dan jumlahnya lebih besar. Street polling yang dilakukan Tim MUDA Kompas terhadap 100 remaja SMU di empat kota besar di Indonesia memperkuat hal itu. Meski menurut mereka data tersebut diakui tidak dapat dipakai sebagai rujukan untuk penelitian atau sejenisnya (Kompas, 4 April 2003: 37), namun dapat digunakan sebagai gambaran kasar betapa lekatnya ponsel dalam kehidupan remaja. Dalam hal frekuensi mengirim SMS, 35 % melakukan antara 5-10 kali, 51 % melakukan antara 11-20 kali, dan 14 % dari mereka melakukan aktivitas pengiriman SMS lebih dari 20 kali sehari! Yang lebih mencengangkan lagi adalah temuan Siemens Lifestyle Survey di enam negara Asia Tenggara pada remaja usia 15-19 tahun dan paskaremaja pada golongan usia 20-29 tahun. Di Indonesia 79 % penduduk sangat merasa kehilangan ketika ponsel mereka tidak ada di sekitarnya, 40 % orang Indonesia jantungnya berdebar lebih cepat ketika mendengar dering SMS, dan yang lebih menarik lagi 58 % orang Indonesia lebih suka mengirim dan membaca SMS daripada membaca buku (Kompas, 17 April 2003: 49).
Menurut Teori Belajar Humanisme, anak didik ditempatkan sebagai manusia bebas yang mampu mengarahkan dirinya secara bebas. Berdasarkan pandangan tersebut, Carl R. Rogers mengembangkan bentuk belajar bebas yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk menentukan sendiri tujuan dan mengambil tanggung jawab pribadi yang positif bagi masa depannya (Nasution, 1995: 84). Implikasinya, guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal dalam proses pembelajarannya, dengan cara memberikan kesempatan mengkaji sumber-sumber belajar yang ada di lingkungannya, mengintrodusir penggunaan metode pembelajaran yang baru, penggunaan media pendidikan yang up to date, pemanfaatan lingkungan sekitar, kunjungan ke suatu obyek, dan sebagainya. Guru dituntut untuk menciptakan suasana yang penuh tantangan, kompetitif, dinamis, dan terbuka.
Industri Selular dalam Proses Pembelajaran
Kenyataan bahwa 60 % remaja Indonesia lebih suka berkirim SMS daripada membaca buku tidak boleh dan tidak sepantasnya dipandang sebagai sebuah ancaman atau bahaya. Dengan penyikapan yang benar, sebenarnya sebuah peluang baru dalam proses pembelajaran siswa terbuka. Paling tidak, guru memberi peluang kepada para siswa untuk saling say hello atau memberikan tugas melalui SMS. Keakraban yang terbentuk antara guru dengan murid merupakan modal kuat untuk kesuksesan proses pembelajaran selanjutnya. Hubungan inilah yang akan membangun jembatan menuju kehidupan bergairah siswa, membuka jalan memasuki dunia baru mereka, mengetahui minat mereka, dan berbicara dengan bahasa hati mereka. Dengan asumsi semakin lama teknologi semakin murah, maka ber-SMS dalam proses pembelajaran menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih funky.
Selama ini ruang-ruang kelas yang diam atau tenang, seragam, datar, tidak penuh gejolak, arus komunikasi searah dari guru ke siswa, dan tidak dinamis merupakan pemandangan yang teramat biasa dan bahkan diidamkan. Padahal, menurut model pembelajaran Quantum, hakikat belajar adalah suatu proses yang seharusnya dipenuhi dengan ketakjuban, penemuan, permainan, keterlibatan, penuh keingintahuan, dan tentu saja kegembiraan (Bobbi de Porter dkk., 2002: 27). Karenanya, guru sebagai konduktor harus mampu menciptakan suasana yang fun. Caranya dengan mengoptimalkan fitur-fitur yang disediakan vendor ponsel dan operator GSM. Dengan fitur MMS (multimedia messaging service), siswa diminta mengirimkan foto-foto kegiatan praktik lapangan ke ponsel guru atau adu cepat menemukan obyek di suatu tempat dengan cara mengirim foto obyek dimaksud dengan komentar secara lisan maupun tertulis. Fasilitas WAP memungkinkan para siswa surfing di internet dari dalam kelas, sehingga guru tidak perlu lagi membawa peta, gambar hewan atau tumbuhan, penampang lintang jaringan epitel, foto meander, dan sebagainya. Tinggal klik saja web site tertentu yang diinginkan, maka berbagai kebutuhan proses pembelajaran siswa dapat berlangsung dengan sangat menyenangkan.
Prinsipnya, fitur-fitur yang mendukung suasana kelas menjadi menggairahkan dapat digunakan dalam proses pembelajaran siswa, termasuk music phone berformat MP3. Dengan menghubungkan ponsel dengan penguat suara, musik di dalam kelas dapat diatur sesuai dengan keinginan kelas itu sendiri, baik volume maupun pilihan musiknya.
Pesatnya perkembangan teknologi selular sudah selayaknya diantisipasi oleh dunia pendidikan. Teknologi 3G memungkinkan akses data internet secara cepat, sehingga sangat menguntungkan dalam proses pembelajaran siswa di dalam kelas.
Kendala
Sayangnya, sampai sekarang optimalisasi fungsi fitur yang disediakan oleh vendor ponsel dan operator GSM belum semuanya dapat terpenuhi. Lagi-lagi, penyebabnya adalah keterbatasan dana. Mahalnya harga ponsel dan biaya operasional serta keterbatasan jaringan merupakan kendala yang tidak mudah dipecahkan. Untuk itu perlu dipertimbangkan produksi massal ponsel dengan fitur tertentu yang sangat dibutuhkan siswa, MMS atau WAP misalnya, untuk kemudian dijual dengan harga lebih rendah daripada harga pasar. Produsen ponsel dapat bekerja sama dengan operator GSM. Performance ponsel dibuat berbeda dengan ponsel untuk pasar umum, misalnya dengan mencantumkan logo operator GSM pada casing-nya. Selain itu, perlu juga dipertimbangkan adanya kerjasama antaroperator GSM dalam layanan MMS. Tanpa adanya trafik MMS di antara mereka MMS akan menjadi fitur kerdil yang tidak banyak berarti dalam dunia pendidikan.
Yang perlu segera direalisasikan adalah penurunan tarif layanan fitur-fitur yang disediakan, sehingga tidak memberatkan siswa dan guru dalam proses pembelajarannya. Bagi para guru yang memanfaatkan fitur ponsel dalam proses pembelajaran, setiap awal tahun pelajaran mengajukan proposal kebutuhan biaya ponsel untuk dimasukkan dalam rancangan anggaran belanja sekolah.
Jika MMS atau WAP belum memungkinkan, sementara SMS pun cukup. Paling tidak dengan memanfaatkan fitur SMS yang murah dan menjadi favorit remaja Indonesia, guru mampu membangun sebuah komunikasi yang sangat baik dengan para muridnya sebagai modal dasar bagi keberhasilan pendidikan di negeri ini.
ZULKARNAEN SYRI L.Staf Pengajar SMUN 1 Jatinom-Klaten

Wednesday, August 02, 2006

this is me

jumat pagi
28 oktober 1966
lahir jabang bayi merah ........
zulkarnaen syri lokesywara