Saturday, August 26, 2006

OPTIMALISASI PERAN INDUSTRI SELULAR
DALAM PROSES PEMBELAJARAN SISWA SMA

Oleh: Zulkarnaen Syri L.


Perkembangan teknologi informasi menyebabkan gaya hidup manusia sangat berubah. Telepon selular (ponsel) bukan lagi menjadi sebuah simbol status seperti dulu. Survei Siemens Mobile Lifestyle III memberikan hasil yang mencengangkan. Menurut survei tersebut, 60% remaja usia 15-19 tahun lebih suka membaca SMS (short messaging service) daripada membaca buku (Kompas, 4 April 2003). Tulisan ini mencoba mencari “benang merah” perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan di SMA. Pelaku pendidikan, diakui atau tidak, seringkali terpaku pada pola-pola lama yang telah mapan, sehingga proses pembelajaran cenderung mandek (stagnant) dan membosankan, serta kurang inovatif.
Kalahnya pamor buku dibandingkan dengan SMS di kalangan remaja tentu saja harus disikapi secara bijaksana. Tidak perlu risau dengan kondisi seperti itu. Dibutuhkan kelihaian penyelenggara pendidikan untuk justru memanfaatkan realitas tersebut sebagai cara baru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Guru, sebagai salah satu komponen pembelajaran, diharapkan mampu menjadi motivator dan dinamisator pada sebuah kelas. Guru tidak harus menjadi orang paling tahu dan paling benar dalam sebuah kelas seperti yang selama ini dikenal. Bobbi DePorter dkk. (2002: 7) dalam buku Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas mengibaratkan kelas sebagai sebuah orkestra. Dalam orkestra tersebut, guru diharapkan menjadi konduktor yang mampu membawa peserta didik naik-turun mengikuti irama yang dimainkannya.
Menurut Quantum Teaching, keberhasilan proses pembelajaran siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru memasuki dunia siswa dan mengantarkan para siswa memasuki dunia baru yang ingin diajarkan guru, seperti konsep, proses, dan fenomena-fenomena baru.
Ponsel dalam Kehidupan Remaja
Sejak sekitar 5 tahun lalu, beberapa SMA di daerah harus merevisi Tata-tertib Siswa yang sudah berlaku bertahun-tahun dengan menambahkan item larangan mengaktifkan ponsel di dalam kelas. Penyebabnya, dalam tas sekolah mereka tersimpan ponsel, terutama GSM, yang dibawa dengan tujuan beragam, baik yang bersifat hura-hura (just fun) sampai yang serius. Jika di daerah saja sudah diberlakukan seperti itu, asumsinya di kota-kota besar trend penggunaan ponsel jauh lebih awal dan jumlahnya lebih besar. Street polling yang dilakukan Tim MUDA Kompas terhadap 100 remaja SMU di empat kota besar di Indonesia memperkuat hal itu. Meski menurut mereka data tersebut diakui tidak dapat dipakai sebagai rujukan untuk penelitian atau sejenisnya (Kompas, 4 April 2003: 37), namun dapat digunakan sebagai gambaran kasar betapa lekatnya ponsel dalam kehidupan remaja. Dalam hal frekuensi mengirim SMS, 35 % melakukan antara 5-10 kali, 51 % melakukan antara 11-20 kali, dan 14 % dari mereka melakukan aktivitas pengiriman SMS lebih dari 20 kali sehari! Yang lebih mencengangkan lagi adalah temuan Siemens Lifestyle Survey di enam negara Asia Tenggara pada remaja usia 15-19 tahun dan paskaremaja pada golongan usia 20-29 tahun. Di Indonesia 79 % penduduk sangat merasa kehilangan ketika ponsel mereka tidak ada di sekitarnya, 40 % orang Indonesia jantungnya berdebar lebih cepat ketika mendengar dering SMS, dan yang lebih menarik lagi 58 % orang Indonesia lebih suka mengirim dan membaca SMS daripada membaca buku (Kompas, 17 April 2003: 49).
Menurut Teori Belajar Humanisme, anak didik ditempatkan sebagai manusia bebas yang mampu mengarahkan dirinya secara bebas. Berdasarkan pandangan tersebut, Carl R. Rogers mengembangkan bentuk belajar bebas yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk menentukan sendiri tujuan dan mengambil tanggung jawab pribadi yang positif bagi masa depannya (Nasution, 1995: 84). Implikasinya, guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal dalam proses pembelajarannya, dengan cara memberikan kesempatan mengkaji sumber-sumber belajar yang ada di lingkungannya, mengintrodusir penggunaan metode pembelajaran yang baru, penggunaan media pendidikan yang up to date, pemanfaatan lingkungan sekitar, kunjungan ke suatu obyek, dan sebagainya. Guru dituntut untuk menciptakan suasana yang penuh tantangan, kompetitif, dinamis, dan terbuka.
Industri Selular dalam Proses Pembelajaran
Kenyataan bahwa 60 % remaja Indonesia lebih suka berkirim SMS daripada membaca buku tidak boleh dan tidak sepantasnya dipandang sebagai sebuah ancaman atau bahaya. Dengan penyikapan yang benar, sebenarnya sebuah peluang baru dalam proses pembelajaran siswa terbuka. Paling tidak, guru memberi peluang kepada para siswa untuk saling say hello atau memberikan tugas melalui SMS. Keakraban yang terbentuk antara guru dengan murid merupakan modal kuat untuk kesuksesan proses pembelajaran selanjutnya. Hubungan inilah yang akan membangun jembatan menuju kehidupan bergairah siswa, membuka jalan memasuki dunia baru mereka, mengetahui minat mereka, dan berbicara dengan bahasa hati mereka. Dengan asumsi semakin lama teknologi semakin murah, maka ber-SMS dalam proses pembelajaran menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih funky.
Selama ini ruang-ruang kelas yang diam atau tenang, seragam, datar, tidak penuh gejolak, arus komunikasi searah dari guru ke siswa, dan tidak dinamis merupakan pemandangan yang teramat biasa dan bahkan diidamkan. Padahal, menurut model pembelajaran Quantum, hakikat belajar adalah suatu proses yang seharusnya dipenuhi dengan ketakjuban, penemuan, permainan, keterlibatan, penuh keingintahuan, dan tentu saja kegembiraan (Bobbi de Porter dkk., 2002: 27). Karenanya, guru sebagai konduktor harus mampu menciptakan suasana yang fun. Caranya dengan mengoptimalkan fitur-fitur yang disediakan vendor ponsel dan operator GSM. Dengan fitur MMS (multimedia messaging service), siswa diminta mengirimkan foto-foto kegiatan praktik lapangan ke ponsel guru atau adu cepat menemukan obyek di suatu tempat dengan cara mengirim foto obyek dimaksud dengan komentar secara lisan maupun tertulis. Fasilitas WAP memungkinkan para siswa surfing di internet dari dalam kelas, sehingga guru tidak perlu lagi membawa peta, gambar hewan atau tumbuhan, penampang lintang jaringan epitel, foto meander, dan sebagainya. Tinggal klik saja web site tertentu yang diinginkan, maka berbagai kebutuhan proses pembelajaran siswa dapat berlangsung dengan sangat menyenangkan.
Prinsipnya, fitur-fitur yang mendukung suasana kelas menjadi menggairahkan dapat digunakan dalam proses pembelajaran siswa, termasuk music phone berformat MP3. Dengan menghubungkan ponsel dengan penguat suara, musik di dalam kelas dapat diatur sesuai dengan keinginan kelas itu sendiri, baik volume maupun pilihan musiknya.
Pesatnya perkembangan teknologi selular sudah selayaknya diantisipasi oleh dunia pendidikan. Teknologi 3G memungkinkan akses data internet secara cepat, sehingga sangat menguntungkan dalam proses pembelajaran siswa di dalam kelas.
Kendala
Sayangnya, sampai sekarang optimalisasi fungsi fitur yang disediakan oleh vendor ponsel dan operator GSM belum semuanya dapat terpenuhi. Lagi-lagi, penyebabnya adalah keterbatasan dana. Mahalnya harga ponsel dan biaya operasional serta keterbatasan jaringan merupakan kendala yang tidak mudah dipecahkan. Untuk itu perlu dipertimbangkan produksi massal ponsel dengan fitur tertentu yang sangat dibutuhkan siswa, MMS atau WAP misalnya, untuk kemudian dijual dengan harga lebih rendah daripada harga pasar. Produsen ponsel dapat bekerja sama dengan operator GSM. Performance ponsel dibuat berbeda dengan ponsel untuk pasar umum, misalnya dengan mencantumkan logo operator GSM pada casing-nya. Selain itu, perlu juga dipertimbangkan adanya kerjasama antaroperator GSM dalam layanan MMS. Tanpa adanya trafik MMS di antara mereka MMS akan menjadi fitur kerdil yang tidak banyak berarti dalam dunia pendidikan.
Yang perlu segera direalisasikan adalah penurunan tarif layanan fitur-fitur yang disediakan, sehingga tidak memberatkan siswa dan guru dalam proses pembelajarannya. Bagi para guru yang memanfaatkan fitur ponsel dalam proses pembelajaran, setiap awal tahun pelajaran mengajukan proposal kebutuhan biaya ponsel untuk dimasukkan dalam rancangan anggaran belanja sekolah.
Jika MMS atau WAP belum memungkinkan, sementara SMS pun cukup. Paling tidak dengan memanfaatkan fitur SMS yang murah dan menjadi favorit remaja Indonesia, guru mampu membangun sebuah komunikasi yang sangat baik dengan para muridnya sebagai modal dasar bagi keberhasilan pendidikan di negeri ini.
ZULKARNAEN SYRI L.Staf Pengajar SMUN 1 Jatinom-Klaten

3 Comments:

Blogger ari setyo nugroho said...

Good, itu baru pak guru yang kuliah di MPKD dong, terus kreatif pakdhe
VIVA PIP 2
setyo_noeg@yahoo.com

10:31 PM

 
Blogger Ultimate Golden Wings said...

Pak Zulkarnaen,

Numpang lewat. Bagi mahasiswa yang menginginkan untuk bisa masuk ke BUMN, PMDN dan PMA silahkan bergabung di Lion Service Communities (Komunitas Mahasiswa Peminat BUMN, PMDN dan PMA). Bagi rekan-rekan guru yang masih mempunyai putra-putri usia kuliah, silahkan bergabung juga.
Kunjungi : www.lolosbumn.blogspot.com

10:36 PM

 
Blogger AYAICANG'S BLOG said...

Pemikiran yang cukup brillian, inovatif. Mungkin tambah aplicable jika diciptakan suatu model pembelajaran yang lebih relevan dengan pemikiran Bpk. Maksih.

8:44 PM

 

Post a Comment

<< Home